BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini, umat manusia kembali melakukan usaha-usaha penyembuhan yang mendekati metode alami. Demikian juga dengan pencarian cara-cara penyembuhan dan pencarian makanan yang besumber dari alam (yang sifatnya sangat bertolak belakang dengan produk-produk hasil kemasan industri)
Telah didapatkan jamur teh yang memiliki banyak manfaat dan mudah dikembangbiakkan dan telah menjadi obat rumahan di berbagai negara di pelosok dunia.
Kombucha adalah minuman hasil fermentasi dari larutan teh dan gula dengan menggunakan starter mikroba kombucha. Kombucha merupakan jamur teh yang berasal dari Asia Timur yang tersebar ke Jerman melalui Rusia sekitar pergantian abad ke-20. Jamur ini hidup di air teh, dan memiliki banyak kegunaan dan tidak memiliki efek samping.
Melalui Karya Ilmiah ini akan saya uraikan mengenai manfaat apa saja yang dapat diperoleh dari teh kombucha ini bagi kesehatan dan cara mengembangbiakkan teh kombucha ini untuk dapat memperoleh hasil yang maksimal. Itulah yang melatarbelakangi saya menulis Karya Ilmiah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu teh kombucha ?
2. Apa saja kandungan dan cara kerja teh kombucha ?
3. Apa manfaat teh kombucha bagi kesehatan ?
4. Bagaimana cara membuat teh kombucha ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi kombucha.
2. Untuk mengetahui kandungan dan cara kerja teh kombucha.
3. Untuk mengetahui manfaat teh kombucha bagi kesehatan.
4. Untuk mengetahui cara membuat teh kombucha.
BAB II LANDASAN TEORI
A. Asal Usul Teh Kombucha
Nama Kombucha berasal dari dua kata yaitu ‘kombu’ dan ‘cha’. ‘kombu’ adalah nama seorang tabib dari Korea yang hidup pada abad ke-5 Masehi. Dan kata ‘cha’ diambil dari bahasa Cina yang bermakna ‘teh’. Menurut cerita, pada sekitar tahun 414 SM, seorang kaisar jepang yang bernama Inkyo suatu waktu menderita penyakit pencernaan kronis. Penyebabnya adalah sembelit yang berkepanjangan. Kemudian atas saran tabib, Sang Kaisar mengonsumsi ramuan teh yang difermentasi oleh sejenis jamur hasil racikan Tabib. Setelah mengonsumsinya, penyakit yang diderita oleh Kaisar bisa disembuhkan. Atas jasa Tabib tersebut maka Kaisar memberi nama ramuan tersebut dengan nama ‘kombucha’ yang berarti Teh ramuan dari seorang tabib yang bernama Kombu.
Menurut pendapat yang terdapat di web http://indokombucha.wordpress.com bahwa Kombucha itu sebenarnya bukan Jamur. Dalam bahasa Inggrisnya, dia disebut sebagai SCOBY (Symbiotic Culture Of Bacteria and Yeast), yang berarti: sekumpulan Bakteri dan Ragi membentuk struktur selulosa dan mereka hidup bersama secara simbiotik. Ragi memfermentasi nutrisi dari cairan dimana dia hidup (teh) dan membentuk alkohol, dan kemudian bakteri mengubahnya menjadi asam yang menyehatkan bagi tubuh. Lapisan ini disebut juga sebagai Zooglea (lapisan yang hidup).
Di Indonesia sendiri, teh kombucha telah dimanfaatkan sejak tahun 1930-an. Masyarakat Indonesia lebih mengenalnya dengan sebutan teh kombu, di beberapa daerah orang menyebutnya dengan jamur dipo yang berarti ‘jamur benteng’.
Di Indonesia sendiri, karena kita sudah terbiasa menyebutnya sebagai “Jamur”, dan tidak ada istilah ilmiah yang menterjemahkan tentang “SCOBY”, maka tetap saja kita menyebutnya sebagai “Jamur Kombucha”. Minimal, kita menyebutnya sebagai “jamur” tapi memiliki dasar pemikiran yang benar.
Jamur kombucha merupakan membran jaringan-jamur yang bersifat gelatinoid dan liat, serta berbentuk piringan datar. Kombucha hidup dalam larutan nustrisi teh-gula yang tumbuh dengan cara germinasi. Pada mulanya, piringan jamur tumbuh meluas pada permukaan teh lalu menebal.
Dalam Injil (Ruth 2 :14) mengatakan bahwa tuan tanah Boas pada saat sedang panen gandum, mengundang makan Moabite Ruth, yang kelak menjadi isterinya, dengan berkata Ruth seperti kutipan berikut: “Datanglah kemari dan makanlah roti serta celupkanlah sepotong dari rotimu kedalam minuman asam ini! Kemudian dia duduk disamping para pengetam gandum; serta diberikannya gandum yang telah dimasak kepada Ruth yang kemudian memakannya dan terpuaskan, lalu pergilah Ruth”.
Ceritera Injil ini terjadi sekitar 1000 tahun S.M., tidak hanya memberikan kepada kita gambaran mengenai contoh kebiasaan mereka dalam hal gizi, walaupun pola hidup mereka masih sangat sederhana dalam ukuran kita sekarang. Bisa dilihat bahwa dalam mempersiapkan minuman, dipakai asam dari susu untuk menjamu rekan-rekannya guna memberi kekuatan dan kesegaran jasmani setelah bekerja keras memanen hasil pertanian.
Kombucha adalah minuman yang ditujukan untuk mempertahankan / meningkatkan kesehatan. Teh Kombucha adalah minuman Probiotik. Definisi Probiotik menurut Wikipedia, adalah: “Live microorganisms which when administered in adequate amounts confer a health benefit on the host” Terjemahan bebasnya: “Mikroorganisme hidup yang jika digunakan dalam jumlah yang tepat akan memberikan keuntungan dalam hal kesehatan bagi si pengguna”. Kombucha sarat akan Vitamin B dan Asam Amino yang berguna untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Kombucha dapat membantu mengembalikan keseimbangan tubuh melalui detoksinasi dan meningkatkan fungsi pencernaan. Setelah keseimbangan tubuh dan kekebalan tubuh menjadi baik, sistem imun dalam tubuh kita sendirilah yang akan berperang untuk melawan penyakit.
Bakteri dalam SCOBY memfermentasi gula menjadi alkohol, tapi dalam jumlah yang sangat kecil, sekitar satu persen (1%). Selama masa fermentasi, ragi mengkonsumsi gula menjadi alkohol. Lalu, bakteri memakan alkohol tersebut dan mengubahnya menjadi bermacam-macam Asam, seperti Asam Laktat, Asam Asetat dll. Jadi jika Teh Kombucha semakin lama disimpan, bukan semakin banyak alkohol yang dihasilkan, melainkan asam. Karena setelah Ragi habis mengkonsumsi gula dan menghasilkan alkohol, alkohol diubah menjadi asam oleh bakteri. Jadi sisa yang tertinggal adalah rasa Asam. Semakin lama disimpan, Teh Kombucha akan semakin asam dan akhirnya akan menjadi Cuka Kombucha.
Sebagian orang beranggapan bahwa Teh Kombucha adalah Haram bagi umat islam, disebabkan karena hasil fermentasinya mengandung alkohol. Akan tetapi jika kita mengacu pada fatwa LP-POM MUI, bahwa maksimal kandungan alkohol yang bisa di tolerir adalah 2%. Jika telah melebihi kadar tersebut maka obat atau minuman tersebut termasuk khamar. Cukup dengan kenyataan ini, kita tahu bahwa LP-POM MUI tidak mengharamkan alkohol secara mutlak. Dengan demikian Kombucha adalah minuman yang halal. Walaupun Kombucha mengandung alkohol dalam jumlah yang sangat kecil kita tetap harus waspada agar kandungan alkohol dalam Kombucha tidak meningkat bahkan kalau perlu bisa dihilangkan.
B. Pendapat Ahli
Maxim Bing (1928) merekomendasikan bahwa Jamur Kombucha adalah suatu saran yang sangat efektif untuk mengatasi pengerasan pembuluh nadi, gout atau rematik tulang, serta ketidak lancaran pada pencernaan perut. Dengan minum kombucha yang berasal dari bibit yang bagus serta segar, maka efeknya yang sangat bermanfaat akan terasa optimal, yang ditandai dengan adanya penurunan tekanan darah pada penderita darah tinggi, merasa lebih pasrah dan hilangnya rasa khawatir bagi penderita ketegangan jiwa, hilangnya peradangan dan nyeri serta sakit, sakit kepala dan pusing, dsb. Perut yang bermasalah serta penyakit yang mengiringinya, dengan cepat akan dapat teratasi. Hasil yang nyata serta menggembirakan akan terlihat dalam perbaikan, terutama pada pengerasan ginjal serta pembuluh2 darah kapiler didalam otak. Namun untuk pengerasan pada pembuluh darah jantung, agak kurang berpengaruh.
Dr. E. Arauner (1929) menyatakan bahwa "Kultur Kombucha telah digunakan oleh penduduk Asia selama ratusan tahun ditanah asalnya karena hasilnya yang sangat bagus sebagai obat mengatasi kelelahan, kejenuhan, ketegangan syaraf, penunda ketuaan, pengerasan pembuluh nadi, masalah pencernaan, gout dan rematik, pembengkakan pembuluh sekitar dubur atau anus atau ambeein, serta diabetes atau kencing manis".
Pusat Institut Penelitian Bakteri di Moskow menyatakan bahwa mereka sedang berhadapan dengan "Kombucha yang belum dikenal luas, atau spons teh Jepang". Para peneliti selanjutnya menyatakan bahwa kultur jamur yang menyerupai spons tersebut sesungguhnya adalah suatu massa-jelly yang dibentuk oleh pertumbuhan symbiosis dari bakteri Xylinum dari genus Saccharomyces, dengan gumpalan sel-sel jamur berbentuk sarang. Mengenai symbiosis ini, Frank menulis, "termasuk juga: Saccharomyces Ludwigii, Saccharomyces dari tipe-tipe apiculatus; Bacterium xylinoides, Bacterium gluconicum, Schizosaccharomycespombe, Acetobacter ketogenum, Torula types, Pichia fermentans serta jamur2 lain."
Para ahli mikrobiologi Soviet menyimpulkan bahwa "jamur teh" bukanlah jamur dalam arti sebenarnya, namun dari jenis lumut. "Walaupun salah satu dari produknya adalah "antibiotika-mirip lumut," Frank tidak sependapat dan menyatakan, "Lumut adalah symbiosis dari algae serta fungi, dan membutuhkan sumber enerji berupa sinar untuk membangun chlorophyll melalui proses fotosyntesa, suatu sifat tipikal dari algae. Kombucha pada sisi lain, berkembang walaupun dalam ruangan gelap sekalipun, yang secara jelas tidak mempunyai sifat algae.
Prof. Wilhelm Henneberg juga menulis bahwa suatu minuman ini dipersiapkan dari kultur Kombucha dan disebut sebagai kvass teh – di Rusia, dan terkenal sebagai obat untuk memerangi segala macam penyakit, terutama sembelit.
Professor S. Bazarewski mengemukakan dalam suatu laporan di "Correspondence for the Association of Nature Researchers in Riga" (1915) bahwa penduduk berbangsa Latvia di Provinsi Rusia Baltic, yaitu di Livland dan Kurland, mempunyai obat tradisional yang bernama "Brinum Ssene", yang secara harfiah diterjemahkan sebagai "Jamur Ajaib". Penduduk Latvia menggambarkan jamur ini sebagai "kekuatan penyembuh yang ajaib untuk berbagai macam penyakit", sesuai dengan uraian Bazarewski. Beberapa orang yang ditanyai Bazarewski menyatakan bahwa jamur ini bisa menyembuhkan sakit kepala, tetapi yang lain juga menyatakan kepadanya bahwa "jamur ini sangat berguna dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit".
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Tempat memasak air
b. Toples atau wadah tempat fermentasi teh
c. Kain Penutup Toples atau wadah
d. Saringan untuk menyaring teh
2. Bahan
a. Kombucha culture (the ferment)
b. 70 - 100 g (2.5- 3 ounce ) gula putih untuk satu liter
c. 2 sendok the hijau/hitam untuk satu liter air
B. Prosedur Pembuatan
1. Membuat teh dengan cara biasa. Untuk per liter air, ditambahkan 2 sdt teh hijau/hitam kedalam air yang baru mendidih. Bisa juga gunakan teh-celup. Teh dibiarkan mengembang selama 15 menit.
2. Menyaring teh atau pisahkan teh celupnya dari air.
3. Menambahkan 70 - 100 gram (lebih kurang 2- 3 ounces) gula putih untuk satu liter air teh. Lalu diaduk. Satu sendok makan gula setara 20 gram.
4. Cairan teh yang sudah mengandung gula tersebut dibiarkan dingin hingga menyamai temperatur ruangan. Koloni Kombucha akan mati bila berada dalam cairan yang panas.
5. Bila teh sudah sama dengan temperatur ruangan, maka dimasukkan kedalam toples, atau tempat/wadah dari Stainless Steel. Yang dari Gelas adalah yang terbaik. Metal/besi selain Stainless Steel hasilnya akan tidak memuaskan karena asam (acids) yang terbentuk akan bereaksi pada metal.
6. Bila minuman Teh Kombucha dibuat untuk pertama kalinya, cairannya ditambahkan dengan koloni teh kombucha. Untuk pemakaian selanjutnya, selalu tambahkan 10% dari Teh Kombucha yang akan dibuat sebagai “cairan pemula”.
7. Teh Kombucha disimpan kedalam toples yang berisi koloni Teh Kombucha.
8. Tempat fermentasi ditutup dengan dengan kain yang rapat, agar semut, lalat dan nyamuk, debu atau pollutan lainnya tidak bisa masuk. Yang penting udara bisa mengalir dengan bebas. Mulut toples diikat dengan karet.
9. Fermentasi berlangsung sekitar 8 - 12 hari, tergantung suhu. Lebih hangat temperatur ruangan, lebih cepat proses fermentasinya. Periode 8 - 12 hari diberikan hanya sebagai pedoman. Koloni Kombucha memerlukan tempat yang tenang dan hangat dan tidak boleh digoyang dan dipindah-pindah. Temperatur teh tidak boleh berada dibawah 20o C dan tidak boleh lebih dari 30o C. Temperatur idealnya adalah 23 – 27oC. Sinar tidak diperlukan. Koloni teh Kombucha bisa bekerja dalam kegelapan. Koloni Kombucha akan rusak bila terkena sinar matahari. Selama proses fermentasi, gula akan terurai oleh ragi (yeast) dan berubah menjadi gas (CO2). Ini adalah kombinasi dari sejumlah proses yang memberikan rasa khas minuman Kombucha. Pada awal fermentasi masih manis, namun kemudian hilang karena gula terurai. Pada waktu bersamaan, rasa asam muncul untuk tumbuh sebagai sebuah hasil dari kegiatan bakteri, sehingga ada proses transisi dari rasa manis ke rasa asam/kelat. Jika ingin rasa yang agak sedikit manis, fermentasi dapat dihentikan lebih awal. Untuk rasa yang lebih asam, ferementasi harus lebih lama.
10. Bila teh telah mencapai tingkat keasaman yang benar (pH 2,7 - 3,2), yang tergantung pada cita-rasa individu, KT colony diambil dengan tangan yang bersih. Lalu dibersihkan dibawah air ledeng. Isi air teh yang sudah disiapkan kedalam tempat/wadah/toples dan segera masukkan koloni Kombucha. Jaga temperatur air tehnya. Air teh Kombucha yang sudah jadi dituangkan kedalam botol, yang harus diisi. Sisakan seperpuluh (10%) bagian untuk keperluan pembuatan Kombucaha Tea berikutnya. Lalu menutup botol dengan rapat.
11. Untuk memperoleh kepuasan maksimal dari minuman ini, biarkan minuman ini sekitar beberapa hari (sekurang-kurangnya 5 hari) setelah disimpan dalam botol. Kegiatan bakteri terhenti karena minuman yang didalam botol tanpa udara, sementara raginya terus bekerja. Jika botol benar-benar tertutup dengan baik, gas yang dihasilkan oleh kegiatan ragi, tidak bisa keluar. Sehingga minuman yang berbuih halus dihasilkan. Pada waktu ragi akan menghentikan produksi gas . Dianjurkan untuk menyimpan minuman ditempat yang dingin.
BAB IV PEMBAHASAN
A. Cara Kerja Kombucha
Dalam pelbagai laporan tertulis di berbagai lembaga maupun pengalaman perorangan, banyak kesaksian yang meyakinkan muncul. Hal ini dapat dijelaskan dengan memahami bahwa kombucha tidaklah khusus membidik organ tubuh tertentu, namun memengaruhi tubuh secara menyeluruh, dengan menstabilkan metabolisme tubuh dan menawarkan racun dengan asam glukuronat. Hal ini menyebabkan peningkatan kapasitas pertahanan endogenis tubuh terhadap pengaruh beracun dan tekanan lingkungan, sehingga metabolisme sel yang rusak diperkuat, dan berlanjut dengan pemulihan kesehatan tubuh.
Beberapa sifat menyehatkan teh kombucha ini harus didukung oleh penelitian lebih lanjut. Namun, mekanisme aktif lainnya telah dibuktikan melalui pengujian dan percobaan ilmiah, seperti pada: pengaturannya terhadap bakteri pada alat pencernaan, penguatan sel, detoksifikasi dan seperti mengurangi kelebihan keringat, harmonisasi metabolis, efek antibiotik, memfasilitasi keseimbangan pH tubuh.
Kandungan asam glukonat yang ada pada minuman kombucha mampu memperkuat daya kekebalan tubuh terhadap infeksi dari luar serta mempunyai kemampuan untuk mengikat racun dan mengeluarkannya dari tubuh lewat urine. Kandungan antimikroba pada minuman kombucha mampu menghambat pertumbuhan Shigella sonmei, E. coli, dan Salmonella typhimurium.
Selama fermentasi kultur kombucha akan menghasilkan sejumlah alkohol, karbondioksida, vitamin B, vitamin C, serta berbagai jenis asam organik yang sangat penting bagi metabolisme manusia seperti asam asetat, asam glukonat, asam glukoronat, asam oksalat, dan asam laktat. Komposisi larutan media (teh) mempengaruhi aroma dan rasa kombucha. Komposisi yang dimaksud adalah gula-gula residu, kaarbondioksida dan asam organik (terutama rasio antara asam asetat dengan asam glukonat). Asam asetat yang bersifat volatil menghasilkan aroma kuat dan menusuk serta aroma asam, sedangkan flavor asam yang dihasilkan asam glukonat lembut.
B. Kultur Kombucha
Kultur kombucha berbentuk seperti pancake yang berwarna putih (pucat) dan bertekstur kenyal seperti karet dan menyerupai gel. Kultur yang disebut pelikel ini terbuat dari selulosa hasil metabolisme bakteri asam asetat. Kultur kombucha dapat terletak mengapung di permukaan cairan atau kadang dijumpai tenggelam di dalam cairan teh kombucha. Kultur kombucha mencerna gula menjadi asam-asam organik, vitamin B dan C, serta asam amino dan enzim. Kultur ini juga berperan sebagai mikroorganisme probiotik yang baik bagi kesehatan.
Koloni kombucha mewakili hubungan simbiosis antara bakteri dan khamir. Acetobacter xylinum dalam aktivitasnya menunjukkan perannya sebagai bakteri utama dalam koloni kultur. Beberapa kombinasi bakteri-khamir dalam kombucha antara lain Acetabacter sp. dan Pichia, Zygosaccharomyces, jumlah khamir yang terdapat di dalam koloni sangat bervariasi, namun yang paling sering ditemukan berasal dari genera Brettanomyces, Zygosaccharomyces dan Saccharomyces. Rendahnya laju kontaminasi oleh mikroorganisme berbahaya (patogen dan pembusuk) menandakan bahwa kombucha juga dapat diproduksi sendiri tanpa adanya risiko pathogen bagi kesehatan. Keasaman produk kombucha relatif tinggi, yaitu dengan total asam sekitar 33 g/L, dan dalam jumlah ini kontaminan lain akan sulit tumbuh. Namun apabila fermentasi berlangsung terlalu lama, maka keasaman akan meningkat sangat jauh sehingga dapat membahayakan orang yang mengkonsumsinya.
pH yang rendah dan kondisi lingkungan yang anaerob menyebabkan viabilitas khamir dan bakteri menjadi menurun selama fermentasi berlangsung, namun masih ada beberapa genera baik khamir maupun bakteri yang dapat tahan dalam kondisi tersebut.
Langkah-langkah prosedur dilakukan sama seperti proses pembuatan kombucha tea, tetapi toplesnya bisa digunakan yang lebih kecil. Lapisan selulosa yang baru terbentuk dan seduhan teh yang sudah difermentasi dijadikan starter untuk pembuatan minuman kombucha tea. Agar diperoleh kepuasan maksimal dari minuman ini, biarkan minuman ini sekitar beberapa hari (sekurang-kurangnya 5 hari) setelah ditaruh dalam botol. Kegiatan bakteri terhenti karena minuman yang di dalam botol tanpa udara, sementara raginya terus bekerja. Jika botol benar-benar tertutup dengan baik, gas yang dihasilkan oleh kegiatan ragi, tidak bisa keluar, sehingga minuman yang berbuih halus biasa dihasilkan.
Kultur Kombucha mengandung berbagai macam campuran dari bakteri Acetobacter dengan khamir yang umumnya spesies Brettanomyces bruxellensis, Candida stellata, Schizosaccharomyces pombe, Torulaspora delbrueckii, dan Zygosaccharomyces bailii.
Berikut adalah gambar dari masing-masing organisme:
Acetobacter Brettanomyces Bruxellensis
Candida Stellata Schizosaccharomyces Pombe
Torulaspora Delbrueckii Zygosaccharomyces Bailii
C. Proses Fermentasi
Proses fermentasi dimulai ketika kultur mengubah glukosa menjadi alkohol dan CO2, kemudian bereaksi dengan air membentuk asam karbonat. Glukosa berasal dari inversi sukrosa oleh khamir menghasilkan glukosa dan fruktosa. Acetobacter sebagai bakteri utama dalam kultur kombucha mengoksidasi etanol menjadi asetaldehid lalu kemudian menjadi asam asetat. Aktivitas biokimia yang kedua dari bakteri Acetobacter adalah pembentukan asam glukonat yang berasal dari oksidasi glukosa. Sukrosa dipecah menjadi gluosa dan fruktosa oleh khamir. Pada pembuatan etanol oleh khamir dan selulosa oleh A.xylinum, glukosa dikonversi menjadi asam glukonat melalui jalur fosfat pentosa oleh bakteri asam asetat, sebagian besar fruktosa dimetabolis menjadi asam asetat dan sejumlah kecil asam glukonat. Bakteri asam laktat juga menggunakan glukosa untuk mensintesis selulosa mikroba. Fruktosa masih tertinggal sebagian dalam media fermentasi dan diubah menjadi bentuk yang lebih sederhana oleh mikroorganisme sehingga dapat digunakan sebagai substrat fermentasi. Kultur dalam waktu bersamaan juga menghasilkan asam-asam organik lainnya. Bakteri A. xylinum mengubah gula menjadi selulosa yang disebut nata/pelikel dan melayang di permukaan medium. Jika nutrisi dalam medium telah habis dikonsumsi, kultur akan berhenti tumbuh tetapi tidak mati. Kultur akan aktif lagi jika memperoleh nutrisi kembali. Bakteri asam asetat memanfaatkan etanol untuk tumbuh dan memproduksi asam asetat. Adanya asam asetat menstimulasi khamir untuk memproduksi etanol kembali. Interaksi simbiosis ini ditemukan pada Glukonobacter dan S.cerevisiae. Konsentrasi asam asetat dalam kombucha hanya meningkat sampai batas tertentu lalu mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena pemanfaatan asam asetat lebih lanjut oleh A.xylinum ketika jumlah gula dalam media teh mulai habis. Penurunan kadar asam ini juga dikarenakan fermentasi etanol oleh khamir juga mengalami penurunan dikarenakan pH yang sangat rendah serta mulai habisnya gula dalam larutan.
Acetobacter juga mampu menghidrolisa sukrosa menggunakan levansukrase menjadi glukosa dan sebuah polisakarida fruktosa. Jenis gula (sukrosa, glukosa, fruktosa) memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap pembentukan etanol dan asam laktat, namun konsentrasi gula secara individu hanya mempunyai pengaruh yang sangat kecil terhadap flavor kombucha.
Selama proses fermentasi kombucha tea terjadi aktivitas mikroorganisme yang berlangsung secara simultan dan sekuensial. Proses fermentasi dimulai dengan aktivitas khamir yang memecah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa dengan bantuan enzim ekstraseluler invertase dan selanjutnya glukosa direduksi menjadi etanol dan karbondioksida yang terbentuk bereaksi dengan air membentuk asam karbonat.
Laju pemecahan sukrosa menjadi fruktosa lebih tinggi dibandingkan terhadap produksi glukosa. Kedua gula ini dapat digunakan oleh A.xylinum untuk memproduksi asam2 organik dan biosintesis selulosa. A.xylinum tidak aktif memetabolisir fruktosa seperti halnya glukosa, sehingga fruktosa terakumulasi di dalam larutan.
D. Hasil Fermentasi
1. Asam laktat
Asam laktat yang ada di dalam kombucha sebagian besar terdapat dalam bentuk L(+)-laktat. Asam laktat penting bagi sistem pencernaan manusia. Asam laktat juga digunakan sebagai indikator penyakit kanker.
2. Asam asetat
Asam asetat dapat menghambat bakteri berbahaya sehingga sering digunakan menjadi pengawet. Asam asetat merupakan komponen yang memberi aroma dan rasa khas pada kombucha.
3. Asam malat
Asam malat penting dalam proses detoksifikasi tubuh.
4. Asam oksalat
Asam oksalat dapat berfungsi sebagai pengawet alami dan juga mendukung sel dalam memproduksi energi bagi tubuh.
5. Asam glukonat
Merupakan penghasil gula yang dapat menghancurkan asam kaprilat untuk bekerja secara simbiosis dengan asam butirat (dihasilkan oleh ragi), yang dapat melindungi membrane sel, dan bersama dengan asam glukonat yang dihasilkan oleh bakteri, memperkuat dinding usus agar dapat melawan infeksi seperti candida, dan asam nukleat, seperti asam ribonukleat (RNA) dan asam dinukleat (DNA), yang mentransformasikan informasi kepada sel tentang bagaimana bekerja yang baik dan melakukan regenarasi.
6. Asam butirat
Asam butirat diproduksi oleh khamir dan bekerja sama melawan infeksi khamir dengan asam glukonat.
7. Asam nukleat
Meningkatkan regenerasi sel yang baik dan sehat.
8. Asam amino
Merupakan sekelompok asam yang berperan dalam pembentukan protein. Asam amino penting dalam pembelahan sel dan memperbaiki jaringan yang rusak. Asam amino juga dapat membentuk antibodi yang dapat melawan bakteri dan virus.
9. Enzim
Enzim adalah bagian dari protein yang bertindak sebagai biokatalis, mempercepat laju reaksi biokimia dalam tubuh. Oleh karena itu, enzim akan meningkatkan fungsi-fungsi kesehatan kombucha dengan tubuh. Kombucha juga mengandung beberapa vitamin B dan C, serta bakteri dan khamir yang penting.
E. Khasiat Teh kombucha
Pada tahun 1914 Bacinskaja menyatakan bahwa minuman ini efektif untuk kegiatan perut dan usus, khususnya pada bagian pembuangan. Ia menyarankan orang meminum segelas kecil sebelum makan dan meningkatkan takarannya secara berangsur-angsur untuk mendapatkan khasiat yang nyata dari minuman ini.
Professor S. Bazarewski mengemukakan dalam suatu laporan di "Correspondence for the Association of Nature Researchers in Riga" (1915) bahwa penduduk berbangsa Latvia di Provinsi Rusia Baltic, yaitu di Livland dan Kurland, mempunyai obat tradisional yang bernama "Brinum Ssene", yang secara harfiah diterjemahkan sebagai "Jamur Ajaib". Penduduk Latvia menggambarkan jamur ini sebagai "kekuatan penyembuh yang ajaib untuk berbagai macam penyakit", sesuai dengan uraian Bazarewski. Beberapa orang yang ditanyai Bazarewski menyatakan bahwa jamur ini bisa menyembuhkan sakit kepala, tetapi yang lain juga menyatakan kepadanya bahwa "jamur ini sangat berguna dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit".
Dari beberapa penelitian, ditemukan bahwa kombucha sangat baik untuk:
Prof. B. Lindner (1917-1918) melaporkan bahwa jamur ini kebanyakan digunakan sebagai pengatur (regulator) atau untuk penyembuh aktivitas organ pencernaan yang kurang baik jalannya. Demikian juga halnya dengan pembengkakan disekitar dubur atau anus dapat disembuhkan seperti wasir atau ambei.
Demikian pula Prof. Dr. Wilhelm Henneberg (1926) melaporkan bahwa minuman yang dibuat dari jamur ini, yang di Rusia dinamai "Tea Kwass", digunakan sebagai obat penyembuh berbagai penyakit, terutama untuk sembelit.
2. Memperbaiki kondisi tubuh
Dalam tabloid "White Flag" (1928) dilaporkan bahwa: "Rasa segar dari teh-jamur ini sangat menyenangkan, dan efeknya juga akan sangat menguntungkan bagai para pemakainya. Rasa dari teh yang sudah terfermentasi oleh jamur Kombucha ini, sungguh sangat nikmat. Boleh dikatakan mirip dengan anggur yang ringan dan sparkling (Jawa: kemranyas), atau terrasa seperti semacam Pear-Juice. Efeknya terhadap tubuh akan terasa dengan sangat cepat. Teh jamur ini kerjanya terutama adalah membersihkan darah dan sebagai pembersih racun didalam sel-sel tubuh, sehingga dikatakan sebagai obat yang mujarab bagi kebersihan kulit wajah (jerawat). Selanjutnya, menurut keterangan dokter, adalah sangat baik bagi penyembuh sakit kepala yang kontinu atau menahun, nyeri pada anggota badan, penyakit gout atau encok yang menyebabkan sendi-sendi tangan membengkak karena adanya endapan kristal asam urea, rematik tulang serta masalah-masalah lanjut usia lainnya. Efeknya secara umum akan terlihat setelah minum teh-kombucha ini beberapa minggu, dicirikan dengan mening-katnya kinerja tubuh, yang bisa dikaitkan dengan kandungan K(ombucha) T(ea) yang mengandung berbagai macam vitamin serta efek hormonal, yang telah diketahui pula oleh beberapa dokter serta ahli kesehatan.
Terlebih jauh, maka KT akan meningkatkan metabolisme tubuh secara meyakinkan dan dengan demikian membersihkan dan membuang segala macam racun penyakit didalam tubuh yang merongrong kesehatan.
Dr. Maxim Bing (1928) merekomendasikan KT sebagai "penyembuh efektif untuk Arteriosclerosis, gout serta gangguan alat-alat pencernaan. "Akibat yang menggembirakan adalah efeknya dalam menurunkan tekanan darah, menurunkan kece-masan, obat peradangan, pembengkakan, nyeri serta sakit dan pusing kepala sebagai akibat dari arteriosclerosis, dan kemudian menjadikan tubuh segar dan sehat akibat penggunaan KT ini.
Dr. Siegwart Hermann (1/929) menggambarkan eksperimen pada kucing yang diracuni dengan Vigantol (suatu preparat vitamin B terhadap penyakit anti rickets–anti pertumbuhan tulang). Bisa dilihat akibat positif pada tingkat kolesterolnya setelah menerima ekstrak KT. Hal ini menarik sebab pada kasus arteriosclerosis, maka tingkat kolesterolnya juga meningkat. Kesimpulan Dr. Herman pada ekperimen tersebut : "Observasi oleh para dokter di Ruang Rawat Inap di Rumah Sakit, serta percobaan-percobaan terhadap beberapa binatang menunjukkan bahwa pengetahuan manusia dalam penelitian ini telah jauh berkembang sehingga secara umum muncul pengalaman-pengalaman baru yang telah pula menjadi catatan."
Sesuai dengan uraian Dr. Madaus didalam "Seni Penyembuhan secara Biologis" (1927), bahwa jamur tersebut dengan produk-produk metabolismenya, mempunyai pengaruh kuat dalam pembentukan dinding-dinding sel baru pada proses regenerasi sel, dan dengan begitu merupakan alat penyembuh yang sangat baik bagi arteriosclerosis atau pengerasan pembuluh darah yang disebabkan oleh endapan cholesterol maupun kapur.
5. Bermanfaat bagi penderita stres mental
Manfaat lain kombucha antara lain:
- Apabila bagian tubuh terluka / lecet sehinga berdarah, luka tersebut dicuci terlebih dahulu sampai bersih, lalu ditempelkan sedikit jamur Kombucha pada luka, lalu tutup dengan plester (atau biarkan terbuka jika tidak berpergian). Luka tersebut akan menutup lebih cepat!
- Untuk Wajah yang berjerawat, Jamur Kombucha diblender kemudian dijadikan sebagai masker wajah. Tingkat keasaman yang cukup tinggi dari jamur Kombucha akan membuat jerawat Anda mengering. Selain untuk jerawat, jamur Kombucha ini juga dapat mengencangkan kulit wajah
- Jamur Kombucha yang sudah tua (berwarna semakin coklat) bisa digunakan sebagai pupuk kompos. Caranya jamur diblender / potong kecil, lalu dicampur dengan sampah organik dari dapur. Kemudian menggali lubang di pekarangan rumah, lalu dimasukkan kedalam lubang dan tutup kembali dengan tanah.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Kultur kombucha mengandung berbagai macam bakteri dan khamir diantaranya Acetobacter xylinum, A. aceti, A. pasteurianus, Gluconobacter, Brettanamyces bruxellensis, B. intermedius, Candida fomata, Mycoderma, Mycotorula, Pichia, Saccharomyces cerevisiae, Schizosaccharomyces, Torula, Torulaspora delbrueckii, torulopsis, Zygosaccharomyces bailii dan Z. rouxii.
Komponen-komponen yang terbentuk selama proses fermentasi Kombucha antara lain: Asam Laktat, asam Asetat, Asam Malat, Asam Oksalat, Asam Glukonat, Asam Butirat, Asam Nukleat, Asam Amino, Enzim serta beberapa vitamin B dan C
Manfaat Teh Kombucha antara lain: dapat melancarkan sistem pencernaan atau mengobati sembelit, memperbaiki kondisi tubuh, bermanfaat dalam melawan arteriosclerosis, memulihkan fungsi alat pencernaan, bermanfaat bagi penderita stress mental, menawarkan racun, serta membunuh kanker.
B. Saran
1. Sebaiknya kesehatan harus dijaga dengan baik karena sebagaimana kata pepatah “lebih baik mencegah daripada mengobati”
2. Kepada pembaca pada umumnya dan siswa pada khususnya agar menggunakan Karya Ilmiah ini sebagaimana semestinya.
DAFTAR PUSTAKA